Mayors Lecture: Berani Beraksi, Berani Berbagi


Dalam rangka menyambut Dies Natalis Universitas Kristen Petra (UK Petra) yang ke-60 tahun, Departemen Mata Kuliah Umum (DMU) menyelenggarakan webinar bertajuk Mayors Lecture: “Berani Beraksi, Berani Berbagi”. Mayors Lecture dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, serta terbuka bagi masyarakat umum. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan hari jadi Kota Surabaya pada 31 Mei 2021 melalui zoom meeting dan live streaming youtube. Hadir sebagai pembicara yaitu Eri Cahyadi, S.T., M.T, selaku Wali Kota Surabaya, dan Tjhai Chui Mie, S.E., M.H., selaku Wali Kota Singkawang. Hadir pula sebagai penanggap, Viona Wijaya, S.H., LL.M., Staf Pusat Analisis dan Evaluasi Hukum Nasional Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, serta R. Arja Sadjiarto, S.E., M.Ak., Ak., selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UK Petra. Melalui diskusi daring ini, peserta yang merupakan generasi muda akan mendengarkan teladan dan pengalaman bagaimana pemimpin di negara kita, terutama para narasumber, dalam mengimplementasikan empat pilar kebangsaan. “Betapa pentingnya untuk senantiasa mendengungkan, mengajarkan, dan menanamkan empat pilar kebangsaan kita, terutama untuk generasi muda. Namun, pengajaran saja tidak cukup. Ada pepatah Actions speaks louder than words, generasi muda memerlukan teladan bagaimana pemimpin di negara kita mengimplementasikan empat pilar kebangsaan,” ujar Dr. Ir. Ekadewi Anggraini Handoyo, M.Sc., selaku Ketua Panitia Mayors Lecture. Di bawah pimpinan Tjhai Chui Mie, kota Singkawang mendapatkan berbagai prestasi dan penghargaan, diantaranya adalah kota tertoleran dan kota peduli HAM. Saat ditanya tiga kata kunci tentang nasionalisme, Tjhai menjawab kata kunci utama yaitu “Aku Cinta Indonesia”. Sedangkan bagi Arja Sadjiarto, tiga kata kunci nasionalisme adalah bangga, menghargai keberagaman, serta memberikan kontribusi positif. “Saya sangat tertarik begitu membaca judulnya yaitu empat pilar kebangsaan, karena Indonesia bisa utuh dan maju mengalahkan negara lainnya apabila kita semua bisa menjaga empat pilar kebangsaan. Mengenai nasionalisme, yang paling penting bagi kita semua adalah rasa memiliki. Nasionalisme tidak untuk diucapkan tapi diterapkan dalam kehidupan, apa yang bisa kita lakukan kepada tanah air yang kita cintai,” urai Tjhai Chui Mie. Di tengah kesibukan pada hari jadi Kota Surabaya, Wali Kota Surabaya juga turut menyempatkan diri berbagi dalam kegiatan ini. Eri menyatakan Kota Surabaya sudah merupakan kota yang nasionalis, hal ini dibuktikan dengan kota ini telah menelurkan banyak pemimpin bangsa yang berwawasan dan cinta tanah air. “Bukti contoh yang paling kuat adalah kita adalah Bangsa Indonesia, tanpa membedakan suku, ras, dan agama. Toleransi di kota Surabaya lebih dari yang saya bayangkan, semua orang beragama dapat beribadah dengan aman dan nyaman. Dan kedepannya pemerintah berharap akan muncul sebuah perkumpulan pemuda-pemuda dari berbagai agama yang akan menjaga bersama kota ini,” ungkap Eri Cahyadi. Menanggapi pemaparan dari para pembicara, Viona Wijaya mengungkapkan, “hari ini kita sangat beruntung, karena kita mendapatkan inspirasi bahwa ada keteladanan dan perjuangan yang sedang dilakukan oleh para pemimpin kita di balik banyak berita yang kurang baik. Jadi betul, perubahan bangsa ini membutuhkan keteladanan dari pemimpin, namun kita juga harus ambil bagian kita untuk membantu dan mempercepat.” (rut/Aj)

Mayors Lecture: Berani Beraksi, Berani Berbagi


Dalam rangka menyambut Dies Natalis Universitas Kristen Petra (UK Petra) yang ke-60 tahun, Departemen Mata Kuliah Umum (DMU) menyelenggarakan webinar bertajuk Mayors Lecture: “Berani Beraksi, Berani Berbagi”. Mayors Lecture dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, serta terbuka bagi masyarakat umum. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan hari jadi Kota Surabaya pada 31 Mei 2021 melalui zoom meeting dan live streaming youtube. Hadir sebagai pembicara yaitu Eri Cahyadi, S.T., M.T, selaku Wali Kota Surabaya, dan Tjhai Chui Mie, S.E., M.H., selaku Wali Kota Singkawang. Hadir pula sebagai penanggap, Viona Wijaya, S.H., LL.M., Staf Pusat Analisis dan Evaluasi Hukum Nasional Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, serta R. Arja Sadjiarto, S.E., M.Ak., Ak., selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UK Petra. Melalui diskusi daring ini, peserta yang merupakan generasi muda akan mendengarkan teladan dan pengalaman bagaimana pemimpin di negara kita, terutama para narasumber, dalam mengimplementasikan empat pilar kebangsaan. “Betapa pentingnya untuk senantiasa mendengungkan, mengajarkan, dan menanamkan empat pilar kebangsaan kita, terutama untuk generasi muda. Namun, pengajaran saja tidak cukup. Ada pepatah Actions speaks louder than words, generasi muda memerlukan teladan bagaimana pemimpin di negara kita mengimplementasikan empat pilar kebangsaan,” ujar Dr. Ir. Ekadewi Anggraini Handoyo, M.Sc., selaku Ketua Panitia Mayors Lecture. Di bawah pimpinan Tjhai Chui Mie, kota Singkawang mendapatkan berbagai prestasi dan penghargaan, diantaranya adalah kota tertoleran dan kota peduli HAM. Saat ditanya tiga kata kunci tentang nasionalisme, Tjhai menjawab kata kunci utama yaitu “Aku Cinta Indonesia”. Sedangkan bagi Arja Sadjiarto, tiga kata kunci nasionalisme adalah bangga, menghargai keberagaman, serta memberikan kontribusi positif. “Saya sangat tertarik begitu membaca judulnya yaitu empat pilar kebangsaan, karena Indonesia bisa utuh dan maju mengalahkan negara lainnya apabila kita semua bisa menjaga empat pilar kebangsaan. Mengenai nasionalisme, yang paling penting bagi kita semua adalah rasa memiliki. Nasionalisme tidak untuk diucapkan tapi diterapkan dalam kehidupan, apa yang bisa kita lakukan kepada tanah air yang kita cintai,” urai Tjhai Chui Mie. Di tengah kesibukan pada hari jadi Kota Surabaya, Wali Kota Surabaya juga turut menyempatkan diri berbagi dalam kegiatan ini. Eri menyatakan Kota Surabaya sudah merupakan kota yang nasionalis, hal ini dibuktikan dengan kota ini telah menelurkan banyak pemimpin bangsa yang berwawasan dan cinta tanah air. “Bukti contoh yang paling kuat adalah kita adalah Bangsa Indonesia, tanpa membedakan suku, ras, dan agama. Toleransi di kota Surabaya lebih dari yang saya bayangkan, semua orang beragama dapat beribadah dengan aman dan nyaman. Dan kedepannya pemerintah berharap akan muncul sebuah perkumpulan pemuda-pemuda dari berbagai agama yang akan menjaga bersama kota ini,” ungkap Eri Cahyadi. Menanggapi pemaparan dari para pembicara, Viona Wijaya mengungkapkan, “hari ini kita sangat beruntung, karena kita mendapatkan inspirasi bahwa ada keteladanan dan perjuangan yang sedang dilakukan oleh para pemimpin kita di balik banyak berita yang kurang baik. Jadi betul, perubahan bangsa ini membutuhkan keteladanan dari pemimpin, namun kita juga harus ambil bagian kita untuk membantu dan mempercepat.” (rut/Aj)